Kenaikan berat badan yang berlebih atau obesitas ternyata memiliki dampak serius terhadap kesehatan jantung. Menurut dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi, kondisi obesitas dapat menjadi pemicu munculnya berbagai gangguan jantung, termasuk risiko terjadinya fibrilasi atrium.
Fibrilasi atrium merupakan kondisi di mana detak jantung menjadi tidak teratur dan sering kali sangat cepat. Hal ini terjadi akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung, khususnya di bagian atrium atau serambi jantung. Ketika seseorang mengalami obesitas, beban kerja jantung meningkat secara signifikan untuk memompa darah ke seluruh tubuh, yang pada akhirnya dapat memicu perubahan struktur jantung dan gangguan ritme tersebut.
Kondisi ini tidak boleh disepelekan karena fibrilasi atrium yang tidak tertangani dengan baik dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan yang lebih berat. Salah satu risiko yang paling mengkhawatirkan adalah terbentuknya gumpalan darah di dalam jantung yang berpotensi terlepas dan mengalir ke otak, sehingga dapat menyebabkan stroke iskemik.
Oleh karena itu, menjaga berat badan ideal melalui pola makan sehat dan aktivitas fisik secara rutin menjadi langkah preventif yang krusial. Dengan mengontrol indeks massa tubuh, seseorang dapat mengurangi tekanan pada jantung dan menurunkan risiko terjadinya gangguan irama jantung yang membahayakan nyawa.
Secara umum, penyakit jantung tetap menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Gaya hidup sedenter atau kurang gerak, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor risiko utama yang berkontribusi pada peningkatan angka obesitas dan penyakit kardiovaskular di masyarakat modern saat ini.






