Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menekankan pentingnya penguatan program hilirisasi industri sebagai langkah strategis Indonesia dalam menghadapi perubahan dinamika geopolitik dunia. Menurutnya, kondisi global yang terus berubah menuntut Indonesia untuk tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, melainkan meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.
Bahlil menjelaskan bahwa strategi hilirisasi menjadi prioritas utama guna menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih kokoh. Dengan mengolah sumber daya alam menjadi produk jadi atau setengah jadi, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga komoditas global serta memperkuat posisi tawar negara di pasar internasional.
Selain fokus pada hilirisasi, pemerintah juga mendorong percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih. Langkah ini dipandang krusial agar pemenuhan kebutuhan energi nasional tidak lagi sangat bergantung pada situasi politik dan ekonomi global yang tidak menentu. Integrasi antara hilirisasi industri dan transisi energi diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan sekaligus ramah lingkungan.
Upaya ini juga diproyeksikan dapat menarik lebih banyak investasi asing yang berkualitas, terutama yang membawa teknologi tinggi untuk mendukung proses pengolahan sumber daya alam. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya berperan sebagai penyedia bahan baku, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam rantai pasok industri global masa depan.
Hilirisasi industri merupakan kebijakan strategis pemerintah Indonesia untuk menggeser struktur ekonomi dari berbasis komoditas menjadi berbasis nilai tambah. Program ini mencakup berbagai sektor, mulai dari pertambangan nikel, bauksit, hingga tembaga, yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara melalui pajak dan royalti serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal.






