Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menekankan pentingnya pengembangan ekosistem halal yang lebih terintegrasi untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi bagi Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Direktur Ekonomi Syariah dan BUMN Bappenas, Rosy Wediawaty, yang menyoroti potensi besar sektor halal yang belum tergarap secara maksimal.
Menurut Rosy, fokus utama pengembangan saat ini bukan sekadar pada pemenuhan sertifikasi halal, melainkan bagaimana membangun rantai nilai yang kuat dari hulu hingga hilir. Dengan ekosistem yang terintegrasi, produk-produk halal Indonesia diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar global.
Pengembangan ekosistem ini mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari industri makanan dan minuman, farmasi, kosmetik, hingga sektor pariwisata ramah muslim. Bappenas menilai bahwa sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga terkait sangat krusial untuk memastikan standar kualitas produk halal tetap terjaga sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Lebih lanjut, penguatan ekosistem halal dipandang sebagai langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif. Dengan mengoptimalkan potensi ekonomi syariah, Indonesia berpeluang menjadi pusat produsen halal dunia, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada peningkatan investasi dan pembukaan lapangan kerja baru di berbagai daerah.
Sebagai informasi, Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, yang menjadikan pasar domestik sebagai basis kuat bagi pertumbuhan industri halal. Pengembangan ekonomi syariah di Indonesia tidak hanya mencakup sektor keuangan seperti perbankan syariah, tetapi juga meluas ke sektor riil yang menyentuh berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat.






