Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, memberikan klarifikasi terkait pengaruh penetapan harga saham terendah terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Menurutnya, implementasi harga saham di level Rp1 tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap koreksi yang terjadi pada IHSG saat ini.
Jeffrey menjelaskan bahwa mekanisme pasar dan bobot kapitalisasi pasar dari saham-saham yang berada di harga terendah tersebut tidak cukup besar untuk mengguncang indeks secara keseluruhan. Oleh karena itu, penurunan nilai IHSG lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor makro ekonomi maupun pergerakan saham-saham dengan kapitalisasi besar (big caps) yang memiliki bobot lebih dominan dalam perhitungan indeks.
Pihak BEI menekankan bahwa stabilitas pasar modal tetap menjadi prioritas utama. Meskipun terdapat fluktuasi pada beberapa saham tertentu yang menyentuh harga terendah, hal tersebut dipandang sebagai dinamika pasar yang wajar dan tidak menjadi pemicu utama pelemahan indeks gabungan. Investor pun diimbau untuk tetap jeli dalam menganalisis fundamental perusahaan dan tidak hanya terpaku pada pergerakan harga saham jangka pendek.
Langkah transparansi ini diambil BEI guna memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada para pelaku pasar mengenai cara kerja perhitungan IHSG. Dengan demikian, investor dapat membedakan antara koreksi pasar secara sistemik dengan penurunan harga pada saham-saham individual yang tidak memiliki dampak luas terhadap indeks.
Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indikator utama yang mengukur kinerja seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar, seperti sektor perbankan dan telekomunikasi, sehingga perubahan harga pada saham lapis ketiga atau saham dengan nilai nominal rendah biasanya tidak memberikan dampak besar terhadap angka indeks keseluruhan.






