Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa minimnya potensi pertumbuhan awan hujan menjadi salah satu tantangan signifikan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Fenomena alam ini menyebabkan efektivitas proses penyemaian awan menjadi terhambat, karena ketersediaan massa awan yang cukup sangat diperlukan untuk menghasilkan presipitasi atau hujan.
Dalam pelaksanaannya, OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang mendukung. Ketika pertumbuhan awan hujan di wilayah target berada pada level yang rendah, maka upaya untuk memicu hujan melalui intervensi teknologi menjadi lebih sulit dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun teknologi modifikasi cuaca telah tersedia, faktor alam tetap memegang peranan krusial dalam menentukan keberhasilan operasi tersebut.
Kondisi atmosfer yang kering atau kurangnya kelembapan udara seringkali menjadi penyebab utama terhambatnya pertumbuhan awan. BMKG terus memantau dinamika cuaca secara intensif untuk menentukan waktu dan lokasi penyemaian yang paling tepat, guna meminimalisir risiko kegagalan dalam operasi modifikasi cuaca yang tengah dijalankan.
Upaya modifikasi cuaca ini biasanya dilakukan untuk mengatasi berbagai permasalahan lingkungan, seperti mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pengisian waduk yang mengalami kekeringan. Oleh karena itu, analisis akurat terhadap pertumbuhan awan menjadi kunci utama sebelum tim terbang melakukan penyemaian garam atau bahan kimia lainnya ke dalam awan target.




