Upaya revitalisasi sektor tekstil dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkokoh fondasi manufaktur nasional. Hal ini disampaikan oleh Sarlina Sari, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), yang menekankan pentingnya pembaruan menyeluruh pada industri tekstil agar mampu bersaing di pasar global maupun domestik.
Menurut Sarlina, revitalisasi bukan sekadar perbaikan fasilitas, melainkan transformasi menyeluruh yang mencakup pembaruan teknologi produksi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga efisiensi rantai pasok. Dengan melakukan modernisasi mesin dan proses produksi, industri tekstil diharapkan dapat meningkatkan produktivitas serta menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Lebih lanjut, penguatan sektor tekstil dipandang mampu memberikan efek domino bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai salah satu sektor manufaktur yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, stabilitas dan pertumbuhan industri tekstil akan berdampak langsung pada pengurangan angka pengangguran serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pekerja di sektor tersebut.
Selain itu, revitalisasi ini juga dipandang perlu untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor. Dengan memperkuat basis produksi dalam negeri, kemandirian industri manufaktur dapat terwujud, sehingga produk tekstil lokal mampu mendominasi pasar domestik dan memiliki daya saing yang kuat saat menembus pasar ekspor.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu pilar utama ekonomi kreatif dan manufaktur di Indonesia yang memiliki sejarah panjang sebagai penyumbang devisa negara. Namun, sektor ini kerap menghadapi tantangan berat berupa gempuran produk impor murah serta penurunan efisiensi akibat penggunaan mesin-mesin produksi yang sudah usang, sehingga memerlukan intervensi kebijakan yang tepat untuk menjaga keberlangsungannya.






