Sektor transportasi daring di Indonesia kembali mendapatkan pemain baru dengan hadirnya Green SM. Perusahaan ride-hailing ini secara resmi mulai mengoperasikan layanan ojek online (ojol) yang sepenuhnya berbasis kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi perluasan bisnis mereka di pasar tanah air.
Langkah Green SM dalam mengadopsi teknologi ramah lingkungan ini dipandang sebagai upaya untuk mengurangi emisi karbon di sektor transportasi perkotaan. Dengan menggunakan armada listrik, perusahaan berharap dapat memberikan alternatif transportasi yang lebih bersih sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang bagi para pengemudinya.
Namun, masuknya pemain baru di industri ride-hailing sering kali memicu persaingan harga yang ketat. Menanggapi hal tersebut, pihak asosiasi terkait memberikan peringatan agar persaingan antarperusahaan tidak berujung pada perang tarif. Menurut asosiasi, persaingan yang tidak sehat melalui pemotongan harga secara ekstrem dapat merugikan ekosistem industri transportasi daring secara keseluruhan.
Lebih lanjut, asosiasi menekankan pentingnya menjaga standar tarif yang wajar agar kesejahteraan pengemudi tetap terjamin dan kualitas layanan kepada konsumen tidak menurun. Stabilitas harga dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang, sehingga inovasi seharusnya difokuskan pada peningkatan layanan dan efisiensi teknologi, bukan sekadar adu murah tarif.
Perkembangan kendaraan listrik di Indonesia saat ini memang tengah menjadi fokus pemerintah melalui berbagai program subsidi dan pembangunan infrastruktur pengisian daya. Peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke energi listrik diharapkan dapat mempercepat target net zero emission nasional serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).






