Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Guntur Romli, memberikan tanggapan kritis terhadap pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai ambang batas parlemen yang mencapai angka 8 persen. Menurut Guntur, pernyataan tersebut memiliki implikasi politik yang cukup signifikan, terutama jika dikaitkan dengan posisi Prabowo Subianto dan Partai Gerindra.
Dalam analisisnya, Guntur menilai bahwa diskursus mengenai ambang batas parlemen ini bukan sekadar persoalan teknis pemilihan umum, melainkan memiliki dimensi persaingan politik yang lebih luas. Ia mengindikasikan bahwa pernyataan Presiden Jokowi seolah-olah memberikan tantangan tersendiri bagi Prabowo Subianto dalam mengelola basis dukungan politiknya melalui Gerindra.
Lebih lanjut, Guntur menekankan pentingnya kejelasan regulasi mengenai ambang batas parlemen guna memastikan representasi suara rakyat dapat tersalurkan dengan adil di lembaga legislatif. Menurutnya, angka ambang batas yang tinggi dapat menyaring partai-partai kecil, namun di sisi lain juga menciptakan dinamika persaingan yang sengit antar partai besar yang mencoba mempertahankan atau meningkatkan kursi mereka di parlemen.
Kritik yang dilayangkan oleh Guntur Romli ini menjadi bagian dari dinamika politik internal maupun eksternal koalisi yang terus berkembang menjelang momentum politik mendatang. Ia berharap agar setiap kebijakan atau pernyataan terkait aturan pemilu dapat dipandang dari kacamata kepentingan demokrasi yang lebih luas, bukan sekadar strategi politik praktis antar tokoh kunci.






