Kinerja pasar modal Indonesia mencatatkan penurunan yang cukup signifikan pada penutupan pekan lalu. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sebesar 3,09 persen dalam periode perdagangan yang berlangsung mulai 21 hingga 25 September 2026.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG yang sebelumnya berada pada level 6.441,159 tergelincir ke posisi 6.241,892. Penurunan indeks ini mencerminkan sentimen negatif yang terjadi di pasar saham domestik sepanjang pekan tersebut, sehingga memberikan tekanan bagi para investor.
Dampak dari anjloknya indeks ini tidak hanya terlihat pada angka poin IHSG, tetapi juga berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Secara akumulatif, nilai kapitalisasi pasar BEI tercatat menyusut hingga Rp361 triliun. Penurunan nilai pasar yang cukup besar ini mengindikasikan adanya aksi jual besar-besaran atau penyesuaian portofolio oleh para pelaku pasar dalam skala yang signifikan.
Kondisi pasar yang fluktuatif ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku investasi, mengingat penurunan lebih dari 3 persen dalam satu pekan merupakan koreksi yang cukup dalam. Para pemantau pasar kini menantikan stimulus atau sentimen positif yang dapat mendorong kembali penguatan indeks di periode perdagangan selanjutnya.
Secara umum, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indikator utama yang digunakan untuk mengukur kinerja seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi makro domestik, kebijakan suku bunga bank sentral, hingga stabilitas politik dan ekonomi global yang memengaruhi aliran modal asing masuk maupun keluar dari pasar modal Indonesia.






