Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa sinergi yang kuat antara kalangan ulama dan umara merupakan elemen krusial dalam upaya membangun dan memajukan bangsa Indonesia. Menurut Jenderal Listyo Sigit, kolaborasi antara pemimpin agama dan pemimpin pemerintahan sangat diperlukan untuk menciptakan stabilitas serta harmoni di tengah masyarakat.
Dalam pernyataannya, Kapolri menekankan bahwa peran ulama sebagai pembimbing spiritual dan moral masyarakat harus berjalan beriringan dengan peran umara sebagai pemegang otoritas kebijakan dan keamanan. Sinergi ini diharapkan mampu menjadi fondasi yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan sosial maupun politik yang muncul di tengah keberagaman bangsa.
Lebih lanjut, Jenderal Listyo Sigit menilai bahwa ketika pemimpin agama dan pemerintah memiliki visi yang selaras, maka program-program pembangunan negara dapat terimplementasi dengan lebih efektif. Hal ini dikarenakan pesan-pesan pembangunan yang disampaikan oleh pemerintah akan mendapatkan dukungan moral dan legitimasi dari para tokoh agama, sehingga lebih mudah diterima oleh lapisan masyarakat luas.
Upaya penguatan hubungan antara ulama dan umara ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga persatuan nasional. Dengan adanya komunikasi yang terbuka dan kerja sama yang erat, potensi konflik horizontal dapat diminimalisir, sementara semangat gotong royong dalam membangun negeri dapat terus ditingkatkan demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Secara historis, konsep sinergi antara ulama (pemimpin agama) dan umara (pemimpin pemerintahan) telah lama menjadi pilar stabilitas sosial di berbagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, termasuk Indonesia. Harmoni antara otoritas keagamaan dan politik dipercaya dapat mencegah polarisasi ekstrem dan mendorong terciptanya tata kelola pemerintahan yang lebih humanis serta beretika, yang pada akhirnya berdampak positif pada ketahanan nasional.






