Harga komoditas cabai di wilayah Sulawesi Selatan mengalami kenaikan signifikan akibat dampak fenomena alam El Nino. Kondisi cuaca ekstrem yang menyebabkan kekeringan berkepanjangan ini telah mengganggu stabilitas produksi pertanian di kawasan tersebut.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan, Muhammad Ilyas, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah panen menjadi penyebab utama melonjaknya harga di pasar. Saat ini, harga cabai dilaporkan telah menembus angka Rp85.000 per kilogram, sebuah angka yang cukup membebani daya beli masyarakat, terutama bagi para pelaku usaha kuliner dan rumah tangga.
Kekeringan yang melanda membuat banyak petani mengalami gagal panen atau penurunan kualitas produksi secara drastis. Kurangnya pasokan air yang dibutuhkan tanaman cabai menyebabkan ketersediaan stok di pasar lokal menurun tajam, sehingga harga terdorong naik mengikuti mekanisme pasar.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait kini tengah memantau perkembangan harga dan ketersediaan stok pangan. Upaya stabilisasi harga diharapkan dapat dilakukan guna mencegah terjadinya inflasi yang lebih luas di sektor pangan, mengingat cabai merupakan salah satu komoditas strategis yang sangat memengaruhi indeks harga konsumen di Sulawesi Selatan.
Fenomena El Nino sendiri merupakan pola iklim yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Dampaknya secara global sering kali berupa penurunan curah hujan yang ekstrem di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang memicu bencana kekeringan dan mengganggu siklus tanam pertanian nasional.






