Ketersediaan bahan bakar nabati atau biofuel di masa depan diprediksi tidak akan mampu mengimbangi lonjakan permintaan dari sektor transportasi darat. Para pegiat lingkungan memberikan peringatan mengenai potensi defisit pasokan biodiesel dan bioetanol yang cukup signifikan dalam beberapa dekade mendatang.
Berdasarkan estimasi, pasokan biodiesel dan bioetanol pada tahun 2030 diperkirakan hanya mencapai angka 26,6 juta kiloliter. Angka ini dinilai sangat jauh dari kebutuhan aktual kendaraan darat yang diproyeksikan menyentuh 42 juta kiloliter pada tahun yang sama. Kesenjangan antara pasokan dan permintaan ini diperkirakan akan semakin melebar seiring berjalannya waktu.
Kebutuhan bahan bakar nabati untuk sektor transportasi darat diprediksi akan terus meningkat tajam, hingga mencapai 81,6 juta kiloliter pada tahun 2050. Mengingat terbatasnya sumber daya dan kapasitas produksi, penggunaan biofuel secara massal untuk kendaraan darat dianggap kurang efisien dan tidak realistis untuk dipenuhi.
Oleh karena itu, para ahli lingkungan menyarankan agar alokasi biofuel dialihkan dan difokuskan pada sektor transportasi yang lebih sulit untuk melakukan transisi energi, yakni pesawat terbang dan kapal laut. Berbeda dengan kendaraan darat yang kini mulai beralih ke teknologi kendaraan listrik (EV), sektor penerbangan dan pelayaran membutuhkan bahan bakar dengan densitas energi tinggi yang sulit digantikan oleh baterai listrik, sehingga penggunaan biofuel menjadi solusi yang lebih tepat sasaran.
Biofuel merupakan energi terbarukan yang berasal dari bahan organik, seperti minyak nabati atau limbah pertanian, yang digunakan sebagai alternatif bahan bakar fosil. Pengembangan energi terbarukan ini menjadi bagian penting dari strategi global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan menekan dampak perubahan iklim, terutama pada industri transportasi yang menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar.






