Kembali ke tanah air setelah bekerja di luar negeri seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI). Namun, hal berbeda dialami oleh Lucky Alpi. Ia berhasil membuktikan bahwa pengalaman bekerja di negeri orang dapat menjadi modal berharga untuk membangun kemandirian ekonomi melalui jalur kewirausahaan.
Lucky Alpi kini sukses mengelola bisnis berbasis daring (online) yang mampu menghasilkan omzet hingga puluhan juta rupiah. Keberhasilan ini tidak didapatkan secara instan, melainkan melalui proses adaptasi dan pemanfaatan keterampilan yang ia serap selama menjadi PMI. Baginya, pengalaman bekerja di luar negeri memberikan perspektif baru mengenai etos kerja dan peluang pasar yang bisa dikembangkan di Indonesia.
Dengan mengintegrasikan pengetahuan teknis dan kemampuan manajerial yang didapat selama merantau, Lucky mampu melihat celah bisnis yang potensial di pasar digital. Fokusnya pada kualitas layanan dan pemanfaatan platform e-commerce menjadi kunci utama dalam meningkatkan volume penjualan hingga mencapai angka yang signifikan.
Kisah Lucky Alpi menjadi representasi bahwa status mantan pekerja migran bukan sekadar tentang pengiriman uang (remitansi), tetapi juga tentang transfer pengetahuan dan keterampilan. Keberanian untuk memulai usaha mandiri setelah kembali ke kampung halaman menjadi solusi konkret dalam menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri maupun orang lain, sekaligus meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan.
Secara umum, fenomena pekerja migran yang bertransformasi menjadi pengusaha lokal merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Banyak PMI yang memiliki potensi besar dalam mengelola modal dan jaringan internasional, namun seringkali terkendala pada akses informasi dan pendampingan bisnis saat kembali ke Indonesia. Penguatan ekosistem kewirausahaan bagi para purna PMI diharapkan dapat mengurangi angka migrasi kerja berulang dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di berbagai daerah.






