PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan bahwa operasional kereta cepat Whoosh telah mencatatkan hasil positif jika dilihat dari sisi EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization). Klaim ini memberikan kesan bahwa layanan kereta cepat pertama di Indonesia tersebut sudah mampu menghasilkan keuntungan dari kegiatan operasional utamanya.
Namun, klaim keuntungan tersebut menuai kritik karena dianggap tidak memberikan gambaran finansial yang utuh. Penggunaan indikator EBITDA dinilai mengaburkan kondisi keuangan yang sebenarnya, mengingat angka tersebut belum memperhitungkan beban bunga, pembayaran utang pokok, serta berbagai kewajiban finansial lainnya yang menyertai proyek skala besar ini.
Dalam analisis akuntansi, EBITDA memang sering digunakan untuk mengukur efisiensi operasional jangka pendek. Akan tetapi, bagi proyek infrastruktur dengan biaya investasi yang sangat tinggi seperti Whoosh, beban bunga dan depresiasi aset merupakan komponen biaya yang sangat signifikan. Tanpa memasukkan variabel-variabel tersebut, angka keuntungan yang dipaparkan menjadi kurang representatif terhadap profitabilitas bersih perusahaan.
Kritik ini menekankan pentingnya transparansi laporan keuangan yang lebih komprehensif. Publik dan pengamat ekonomi menilai bahwa keberhasilan proyek kereta cepat tidak seharusnya hanya diukur dari pendapatan operasional harian, tetapi juga dari kemampuan proyek tersebut dalam mengelola beban utang dan mencapai titik impas (break-even point) secara keseluruhan.






