Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) mengungkapkan fakta mengkhawatirkan mengenai kondisi ekonomi para pengemudi ojek daring (ojol) di Indonesia. Berdasarkan hasil survei terbaru, ditemukan bahwa sebanyak 91 persen pengemudi ojol saat ini tengah terjerat dalam beban utang.
Kondisi ini memicu IDEAS untuk mendesak pemerintah agar segera melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan yang ada. Fokus utama kritik mereka tertuju pada pengategorian pengemudi ojol ke dalam kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurut IDEAS, penempatan pengemudi ojol dalam kategori tersebut dianggap kurang tepat dan tidak mencerminkan realitas ekonomi yang mereka hadapi di lapangan.
Ketergantungan yang tinggi terhadap platform aplikasi membuat posisi tawar pengemudi menjadi lemah, sehingga mereka rentan terjebak dalam siklus utang demi memenuhi kebutuhan operasional maupun biaya hidup sehari-hari. IDEAS menilai bahwa tanpa adanya intervensi kebijakan yang tepat, kesejahteraan para pengemudi ojol akan sulit meningkat meskipun jumlah armada terus bertambah di kota-kota besar.
Keterjebakan dalam utang ini bukan sekadar masalah finansial pribadi, melainkan indikasi adanya ketimpangan dalam struktur kemitraan antara penyedia platform dan pengemudi. Oleh karena itu, pemerintah diminta untuk tidak hanya melihat ojol sebagai sektor ekonomi kreatif atau UMKM, tetapi juga memperhatikan aspek perlindungan tenaga kerja dan stabilitas pendapatan mereka agar tidak terus terperosok dalam beban pinjaman.
Fenomena ekonomi berbagi (sharing economy) yang dibawa oleh layanan transportasi daring telah mengubah lanskap transportasi urban di Indonesia secara drastis dalam satu dekade terakhir. Meskipun memberikan fleksibilitas waktu dan membuka lapangan kerja massal, model kemitraan ini sering kali memicu perdebatan mengenai hak-hak pekerja, jaminan sosial, serta standar upah minimum yang belum terakomodasi secara menyeluruh dalam regulasi ketenagakerjaan konvensional.






