Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan kementerian dan lembaga negara untuk melakukan pembenahan internal atau aksi 'bersih-bersih' mendapat sorotan tajam dari Tifauziah Tyassuma, yang lebih dikenal sebagai Dokter Tifa. Menurutnya, langkah pembersihan tersebut akan memicu reaksi negatif dari berbagai pihak yang merasa terancam posisinya.
Dokter Tifa memprediksi bahwa mulai 1 Oktober, akan terjadi fenomena yang ia sebut sebagai 'tantrum massal'. Istilah ini merujuk pada bentuk protes atau reaksi emosional dari para oknum di lingkungan pemerintahan yang selama ini mungkin merasa nyaman dengan sistem yang ada, namun kini harus menghadapi pengetatan aturan dan evaluasi kinerja yang lebih ketat.
Dalam pandangannya, arahan Presiden Prabowo untuk melakukan pembenahan menyeluruh di tubuh birokrasi akan membongkar berbagai praktik yang tidak efisien maupun penyimpangan yang terjadi di dalam lembaga negara. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu kekhawatiran bagi mereka yang tidak mampu beradaptasi dengan standar integritas yang diinginkan oleh kepemimpinan baru.
Kritik ini muncul sebagai respons terhadap semangat reformasi birokrasi yang ingin diusung oleh Presiden Prabowo. Penekanan pada efisiensi dan pemberantasan praktik koruptif di dalam kementerian diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik, meskipun proses transisinya diprediksi akan penuh dengan dinamika internal dan resistensi dari pihak-pihak tertentu.
Secara umum, upaya pembenahan birokrasi merupakan bagian dari agenda besar pemerintah untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik atau good governance. Langkah ini biasanya mencakup audit kinerja, penataan ulang struktur organisasi, hingga penindakan tegas terhadap aparatur sipil negara yang terbukti melakukan pelanggaran disiplin atau tindak pidana korupsi guna mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.






