Presiden Joko Widodo baru-baru ini melontarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini mulai ditakuti oleh banyak pihak. Pernyataan tersebut mengisyaratkan adanya peningkatan pengaruh dan posisi tawar partai tersebut dalam peta politik nasional saat ini.
Namun, klaim Presiden tersebut mendapat respons tajam dari pengamat politik sekaligus mantan birokrat, Said Didu. Menanggapi pernyataan Jokowi, Said Didu memberikan analogi yang cukup provokatif untuk menggambarkan situasi tersebut. Ia menyamakan rasa takut terhadap PSI dengan reaksi orang saat melihat kecoa.
Menurut Said Didu, rasa takut yang dimaksudkan oleh Presiden bukanlah bentuk rasa hormat atau pengakuan atas kekuatan politik yang signifikan. Sebaliknya, ia menilai ketakutan tersebut lebih menyerupai rasa geli atau risi yang muncul secara spontan, namun tidak memiliki landasan substansial dalam konteks kepemimpinan politik yang kokoh.
Analogi ini segera menjadi sorotan publik dan memicu diskusi luas di media sosial. Perdebatan ini mencerminkan dinamika hubungan antarpartai politik di Indonesia, di mana narasi tentang kekuatan dan pengaruh sering kali menjadi alat komunikasi politik untuk membangun citra di mata masyarakat.
Kritik dari Said Didu ini memperlihatkan adanya perbedaan perspektif yang tajam mengenai posisi PSI dalam struktur kekuasaan saat ini. Sementara pihak istana melihat ada dampak psikologis yang kuat dari kehadiran PSI, para kritikus justru melihatnya sebagai fenomena yang tidak terlalu berpengaruh secara fundamental terhadap stabilitas politik nasional.






