Kritik tajam datang dari kalangan pendukung setia Presiden Joko Widodo, Dede Budhyarto, yang menyoroti sikap kubu Prabowo Subianto. Kekecewaan ini muncul lantaran dinilai belum adanya langkah nyata atau pembelaan yang diberikan oleh pihak Prabowo terhadap Gibran Rakabuming Raka dalam menghadapi situasi politik saat ini.
Menurut Budhyarto, seharusnya ada solidaritas yang lebih kuat antara pasangan calon tersebut. Ia menilai sikap diam atau kurangnya dukungan terbuka dari kubu Prabowo terhadap Gibran menjadi hal yang disayangkan. Hal ini memicu reaksi keras dari loyalis Jokowi yang merasa Gibran seharusnya mendapatkan perlindungan politik yang lebih solid dari rekan koalisinya sendiri.
Lebih lanjut, Budhyarto melontarkan pernyataan keras dengan menyebut bahwa kondisi tersebut merupakan konsekuensi yang wajar. Ia menganggap bahwa situasi sulit yang kini dihadapi Gibran adalah sesuatu yang pantas terjadi, mengingat dinamika politik yang berkembang dan posisi yang diambil selama proses kontestasi.
Kritik ini mencerminkan adanya ketegangan internal atau perbedaan persepsi dalam mengelola komunikasi politik di antara pendukung pasangan Prabowo-Gibran. Meskipun secara formal berada dalam satu koalisi, dinamika di tingkat loyalis menunjukkan bahwa koordinasi dukungan tidak selalu berjalan selaras, terutama dalam merespons serangan atau isu yang menyasar salah satu figur.
Dalam konteks politik Indonesia, hubungan antara koalisi besar seringkali diwarnai oleh tarik-ulur kepentingan antara berbagai partai pengusung dan kelompok pendukung. Fenomena ini umum terjadi pasca-pemilu, di mana konsolidasi kekuatan seringkali menghadapi tantangan internal akibat perbedaan strategi komunikasi atau prioritas politik dari masing-masing kubu pendukung tokoh yang berbeda.






