Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, memberikan apresiasi tinggi terhadap praktik pengelolaan lahan gambut yang diterapkan oleh masyarakat di Provinsi Riau. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan di wilayah tersebut kini menjadi rujukan utama bagi Badan Pengelola Gambut Mineral Nasional (BPGMN) dalam merumuskan strategi pelestarian lahan basah di Indonesia.
Menhut menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh masyarakat Riau terbukti efektif dalam menjaga keseimbangan ekosistem gambut sekaligus memberikan manfaat ekonomi. Keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan warga lokal dalam mengadaptasi metode pengelolaan lahan yang ramah lingkungan, sehingga risiko kerusakan lahan gambut dapat diminimalisir.
Lebih lanjut, Raja Juli Antoni menekankan pentingnya replikasi model pengelolaan ini di wilayah lain yang memiliki karakteristik lahan serupa. Dengan menjadikan Riau sebagai percontohan, diharapkan standar pengelolaan gambut nasional dapat ditingkatkan melalui penerapan praktik-praktik terbaik yang sudah teruji di lapangan. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat lokal dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan fungsi hidrologis gambut.
Langkah ini juga diharapkan dapat mengurangi frekuensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang sering kali dipicu oleh pengeringan gambut yang tidak terkontrol. Dengan mengadopsi manajemen lahan yang tepat, masyarakat dapat tetap produktif tanpa harus merusak struktur alami gambut yang sangat rentan.
Sebagai informasi, lahan gambut merupakan ekosistem unik yang memiliki peran krusial dalam penyerapan karbon dunia. Kerusakan pada lahan gambut tidak hanya berdampak pada hilangnya biodiversitas lokal, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca yang mempercepat pemanasan global. Oleh karena itu, restorasi dan pengelolaan gambut yang berkelanjutan menjadi prioritas dalam agenda lingkungan hidup di Indonesia.






