Mata uang Garuda kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026). Berdasarkan data pasar terbaru, nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 75 poin atau setara dengan 0,42 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Koreksi ini membawa posisi rupiah berada di level Rp17.978 per dolar AS. Penurunan nilai tukar ini menunjukkan penguatan mata uang Negeri Paman Sam yang semakin mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Kondisi pasar yang fluktuatif menyebabkan tekanan bagi rupiah, sehingga nilai tukar berada pada posisi yang cukup rentan. Pergerakan nilai tukar ini menjadi perhatian bagi pelaku pasar keuangan dan pelaku usaha, mengingat dampaknya terhadap biaya impor serta stabilitas ekonomi makro nasional.
Secara umum, nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global, terutama kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed). Kenaikan suku bunga di AS biasanya memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset dalam dolar, yang kemudian menekan nilai mata uang lokal seperti rupiah.






