PT MRT Jakarta kini tengah mengembangkan strategi baru dalam pengelolaan asetnya. Perusahaan transportasi berbasis rel tersebut tidak lagi hanya berfokus pada perluasan jaringan konektivitas transportasi publik, tetapi juga mulai mengoptimalkan lahan dan aset yang dimiliki untuk dikembangkan menjadi kawasan aktivitas terpadu.
Langkah strategis ini diambil untuk menciptakan ekosistem yang lebih hidup di sekitar stasiun-stasiun MRT. Dengan mengubah aset yang ada menjadi area multifungsi, MRT Jakarta berharap dapat meningkatkan nilai guna lahan sekaligus memberikan kemudahan bagi para pengguna jasa transportasi dalam mengakses berbagai kebutuhan dalam satu kawasan.
Pengembangan kawasan aktivitas ini direncanakan untuk mendukung konsep pembangunan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD). Melalui pendekatan ini, integrasi antara moda transportasi dengan area komersial, perkantoran, hingga ruang publik akan diperkuat. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak hanya menggunakan MRT sebagai sarana berpindah tempat, tetapi juga menjadikannya sebagai destinasi untuk bekerja, berbelanja, maupun berinteraksi sosial.
Selain meningkatkan pendapatan non-tiket (non-farebox revenue), inisiatif ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di sekitar koridor MRT. Dengan adanya kawasan aktivitas yang tertata, diharapkan akan muncul peluang usaha baru bagi pelaku UMKM serta meningkatkan daya tarik kawasan tersebut bagi investor dan masyarakat umum.
Sebagai informasi, pengembangan kawasan berbasis transit (TOD) merupakan tren global di kota-kota besar dunia untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Konsep ini mengintegrasikan hunian vertikal, perkantoran, dan fasilitas umum dalam jarak jalan kaki dari stasiun transportasi massal, sehingga menciptakan efisiensi waktu tempuh dan mengurangi kemacetan lalu lintas di wilayah perkotaan.






