Pasar minyak global mengalami penguatan signifikan menyusul adanya perkembangan politik terbaru di Timur Tengah. Kenaikan harga komoditas energi ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menyatakan penolakannya terhadap proposal perdamaian yang diajukan oleh Iran.
Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat antara Washington dan Teheran memberikan sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia. Para pelaku pasar mengkhawatirkan potensi gangguan distribusi energi di kawasan Teluk, yang merupakan salah satu pemasok minyak terbesar di dunia, sehingga memicu lonjakan permintaan antisipasi.
Berdasarkan data perdagangan terbaru pada Senin (28/9), harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat mengalami peningkatan. Harga minyak jenis ini naik sebesar 70 sen atau setara dengan 0,76 persen, sehingga mencapai angka US$93,11 per barel.
Kondisi pasar yang fluktuatif ini menunjukkan betapa sensitifnya harga energi global terhadap stabilitas politik di Timur Tengah. Setiap perubahan kebijakan diplomatik dari negara adidaya seperti Amerika Serikat, terutama yang berkaitan dengan Iran, hampir selalu berdampak langsung pada harga minyak mentah di pasar internasional.
Secara umum, harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik, terutama stabilitas di kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi minyak bumi global. Konflik atau ketegangan diplomatik di wilayah tersebut sering kali menyebabkan kekhawatiran akan terganggunya jalur pasokan minyak, yang kemudian mendorong harga naik di pasar spot maupun pasar berjangka.






