Kinerja saham yang masuk dalam daftar short selling di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren yang beragam pada penutupan perdagangan tanggal 29 September 2026. Berdasarkan data rekapitulasi pasar, terdapat perbedaan arah pergerakan harga antara beberapa emiten besar yang menjadi target transaksi jual kosong tersebut.
Dari sisi negatif, terdapat tiga saham yang mengalami tekanan jual sehingga harga sahamnya terkoreksi. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi emiten yang paling tertekan dengan mencatatkan penurunan sebesar 2,03 persen. Selain BRPT, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga mengalami pelemahan dengan koreksi sebesar 1,67 persen, sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun tipis sebesar 1,20 persen.
Kondisi berbeda justru terjadi pada dua emiten lainnya yang justru berhasil mencatatkan penguatan. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Astra International Tbk (ASII) menunjukkan performa positif di tengah tekanan pasar, meskipun besaran kenaikan harganya tidak dirinci secara spesifik dalam laporan penutupan harian tersebut.
Fluktuasi harga pada saham-saham yang menjadi objek short selling ini mencerminkan dinamika ekspektasi investor terhadap prospek jangka pendek emiten terkait. Pergerakan harga yang kontras antara sektor perbankan, pertambangan, dan konsumsi menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini cenderung selektif dalam merespons aksi jual kosong di bursa.
Short selling sendiri merupakan mekanisme perdagangan di mana investor menjual instrumen keuangan yang tidak mereka miliki dengan harapan harga aset tersebut akan turun di masa depan, sehingga mereka dapat membelinya kembali di harga yang lebih rendah untuk mendapatkan keuntungan. Praktik ini umum dilakukan di pasar modal global sebagai strategi lindung nilai atau spekulasi, namun pengaturannya di Indonesia diawasi secara ketat oleh otoritas bursa untuk menjaga stabilitas pasar.






