Pemerintah Indonesia mulai mengambil langkah strategis untuk mengintervensi sektor industri unggas nasional melalui pengembangan proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT). Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menyeimbangkan ekosistem pasar unggas yang selama ini didominasi oleh dua perusahaan raksasa, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
Kehadiran negara dalam sektor ini diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur dan sistem pengolahan ayam yang lebih terpadu. Salah satu titik fokus implementasi proyek HAT ini berada di wilayah Bone, Sulawesi Selatan. Proyek ini dirancang untuk memberikan nilai tambah pada produk ayam lokal, sehingga peternak dan pelaku usaha kecil tidak hanya bergantung pada penjualan ayam hidup, tetapi juga mampu masuk ke pasar produk olahan.
Dengan adanya sistem hilirisasi yang terintegrasi, diharapkan rantai pasok unggas menjadi lebih efisien dan harga di tingkat konsumen dapat lebih stabil. Intervensi pemerintah ini bertujuan untuk memutus ketergantungan pasar terhadap segelintir pemain besar yang memiliki kendali kuat atas distribusi pakan hingga produk akhir. Hal ini diharapkan dapat menciptakan iklim persaingan usaha yang lebih sehat di industri perunggasan nasional.
Selain itu, proyek HAT di daerah seperti Bone diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan para peternak rakyat. Dengan adanya fasilitas pengolahan yang memadai, efisiensi produksi dapat ditingkatkan, sementara risiko kerugian akibat fluktuasi harga ayam hidup di pasar dapat diminimalisir melalui konversi menjadi produk turunan yang memiliki masa simpan lebih lama.






