PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) tengah mempersiapkan langkah strategis untuk meningkatkan struktur permodalannya melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue. Dalam aksi korporasi ini, BSI berencana untuk menerbitkan sebanyak 6,8 miliar saham baru ke publik.
Langkah ekspansi modal ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru tersebut rencananya akan dialokasikan untuk memperkuat modal kerja perusahaan. Selain itu, penambahan modal ini diproyeksikan dapat memperkokoh kapasitas pembiayaan bank syariah terbesar di Indonesia tersebut hingga tahun 2027 mendatang.
Namun, di balik rencana penguatan modal ini, terdapat risiko dilusi yang perlu diperhatikan oleh para pemegang saham saat ini. Dilusi saham terjadi ketika persentase kepemilikan pemegang saham lama berkurang akibat bertambahnya jumlah total saham yang beredar, apabila mereka tidak mengambil haknya untuk menebus saham baru tersebut.
Kebutuhan akan peningkatan modal kerja ini menjadi krusial bagi BSI guna menjaga rasio kecukupan modal serta mendukung pertumbuhan aset dan penyaluran pembiayaan yang lebih agresif di masa depan. Dengan modal yang lebih kuat, BSI diharapkan mampu bersaing lebih kompetitif dalam industri perbankan syariah, baik di pasar domestik maupun regional.






