Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia, belum memberikan rincian mengenai target spesifik yang ingin dicapainya setelah menerima mandat tambahan sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi. Hal ini disampaikan Bahlil tak lama setelah proses pelantikannya dalam struktur kabinet terbaru.
Bahlil menjelaskan bahwa statusnya yang baru saja dilantik membuat dirinya belum bisa memaparkan proyek strategis maupun rencana kerja mendetail yang akan dijalankan. Menurutnya, diperlukan waktu untuk melakukan koordinasi dan pemetaan terhadap berbagai program yang akan menjadi fokus utama kementerian koordinasi tersebut.
Langkah awal yang akan diambil adalah memastikan adanya sinkronisasi antara kebijakan hilirisasi industri dengan target transisi energi yang dicanangkan pemerintah. Bahlil menekankan pentingnya persiapan yang matang agar target yang ditetapkan nantinya bersifat realistis dan dapat diimplementasikan secara efektif di lapangan.
Meskipun belum membeberkan target angka atau proyek tertentu, Bahlil mengisyaratkan bahwa fokus utama pemerintah tetap pada peningkatan nilai tambah komoditas dalam negeri. Hilirisasi dipandang sebagai kunci utama untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional serta menciptakan lapangan kerja baru melalui pembangunan industri pengolahan di berbagai wilayah Indonesia.
Sebagai informasi, kebijakan hilirisasi merupakan strategi pemerintah Indonesia untuk menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong pengolahan sumber daya alam di dalam negeri. Langkah ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi penyedia bahan baku bagi industri global, tetapi juga mampu menghasilkan produk jadi dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi, yang pada akhirnya akan memperkuat struktur ekonomi nasional dan meningkatkan pendapatan negara melalui pajak serta investasi asing.






