Ekonomi

Rupiah Terus Terkoreksi Menuju Rp18.000, IHSG Ikut Tertekan

Rupiah Terus Terkoreksi Menuju Rp18.000, IHSG Ikut Tertekan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan tren pelemahan pada pembukaan perdagangan Selasa. Mata uang Garuda tercatat mengalami depresiasi sebesar 19 poin atau sekitar 0,11 persen, sehingga posisi nilai tukar berada di level Rp17.997 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan tekanan yang cukup kuat terhadap mata uang nasional, mengingat angka tersebut sudah sangat mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini tidak terjadi sendirian, melainkan beriringan dengan penurunan performa pasar modal domestik.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan ikut anjlok, mencerminkan sentimen negatif yang melanda pasar keuangan. Korelasi antara pelemahan nilai tukar dan penurunan indeks saham seringkali terjadi ketika investor cenderung menarik modalnya dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset yang dianggap lebih aman atau safe haven, seperti dolar AS.

Kondisi pasar yang fluktuatif ini memaksa para pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Tekanan eksternal dari kebijakan moneter global, terutama terkait suku bunga di Amerika Serikat, diduga menjadi salah satu faktor utama yang memicu penguatan dolar AS secara global, yang kemudian berdampak langsung pada depresiasi rupiah.

Secara umum, stabilitas nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh neraca perdagangan, aliran modal asing, serta kondisi geopolitik global. Bank Indonesia selaku otoritas moneter biasanya melakukan intervensi di pasar spot dan pasar domestik non-deliverable forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas rupiah agar tidak bergejolak terlalu tajam yang dapat mengganggu stabilitas harga barang dan jasa di dalam negeri.

#Rupiah#Dolar AS#IHSG#Ekonomi#Pasar Modal#Nilai Tukar

Rekomendasi Produk

Lihat Semua →