Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai kondisi kualitas udara di wilayah Kotawaringin Timur yang saat ini masih diselimuti kabut asap. Menurut BMKG, fenomena atmosfer yang dipengaruhi oleh Siklus Walker menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan polusi asap sulit terurai dan bertahan lebih lama di wilayah tersebut.
Siklus Walker merupakan pola sirkulasi udara di atmosfer yang terjadi di sepanjang wilayah ekuator. Dinamika udara ini sangat berpengaruh terhadap distribusi curah hujan dan pergerakan massa udara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam kondisi tertentu, siklus ini dapat menyebabkan penurunan curah hujan atau perubahan arah angin yang menghambat proses pembersihan polutan di udara.
Kondisi atmosfer yang stabil menyebabkan partikel asap dari kebakaran hutan dan lahan tidak dapat terangkat ke lapisan udara yang lebih tinggi atau terbawa angin ke wilayah lain. Akibatnya, konsentrasi polutan tertahan di lapisan bawah atmosfer, sehingga masyarakat merasakan dampak penurunan kualitas udara yang signifikan dalam jangka waktu yang cukup lama.
BMKG mengimbau masyarakat di Kotawaringin Timur untuk tetap waspada terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan asap. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan sangat disarankan untuk meminimalisir risiko gangguan pernapasan. Masyarakat juga diminta untuk terus memantau informasi cuaca dan kualitas udara terkini melalui kanal resmi BMKG guna mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer yang terjadi.
Secara umum, wilayah Kalimantan seringkali menghadapi tantangan tahunan berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap lintas batas. Fenomena ini biasanya diperparah oleh kondisi musim kemarau yang ekstrem serta pengaruh fenomena iklim global seperti El Nino, yang menyebabkan kekeringan panjang dan membuat lahan gambut menjadi sangat mudah terbakar.






