Kekuatan dolar Amerika Serikat kembali memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas nilai tukar di kawasan Asia pada awal pekan ini, Senin (28/9/2026). Sejumlah mata uang utama di kawasan tersebut mengalami depresiasi terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Berdasarkan pantauan pasar, pelemahan terjadi pada beberapa mata uang penting, di antaranya adalah Rupiah Indonesia, Won Korea Selatan, Yen Jepang, serta Yuan China. Penurunan nilai tukar ini menunjukkan betapa kuatnya dominasi dolar AS yang kembali menjadi pilihan utama para investor di pasar valuta asing.
Kondisi ini menciptakan dinamika yang cukup kontras di pasar Asia, mengingat tidak semua mata uang mengalami nasib yang sama. Di tengah tren penurunan tersebut, mata uang Vietnam justru menunjukkan ketahanan dan berhasil terhindar dari tekanan depresiasi yang melanda negara-negara tetangganya.
Kondisi pasar valuta asing yang fluktuatif ini biasanya dipicu oleh berbagai faktor makroekonomi, termasuk kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta sentimen risiko global yang membuat investor cenderung mencari aset aman dalam bentuk dolar.






