Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan. Strategi utama yang ditempuh oleh bank sentral adalah dengan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter guna memastikan mata uang nasional tetap resilien.
Hal tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, dalam forum rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Dalam kesempatan tersebut, Destry menjelaskan bahwa BI tidak hanya mengandalkan satu instrumen kebijakan, melainkan mengombinasikan berbagai langkah strategis untuk meredam volatilitas pasar keuangan.
Optimalisasi bauran kebijakan ini mencakup koordinasi antara kebijakan moneter, makroprudensial, serta manajemen sistem pembayaran. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan eksternal yang kerap mempengaruhi pergerakan rupiah, sehingga stabilitas makroekonomi dalam negeri dapat tetap terjaga dengan baik.
Selain itu, BI menekankan pentingnya sinergi antara otoritas moneter dan fiskal dalam menghadapi ketidakpastian pasar global. Dengan pendekatan yang terintegrasi, diharapkan tekanan terhadap rupiah dapat diminimalisir sehingga tidak berdampak negatif terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Sebagai otoritas moneter tertinggi di Indonesia, Bank Indonesia memiliki mandat utama untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan ini mencakup dua aspek, yakni kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa (inflasi) serta kestabilan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Menjaga stabilitas rupiah menjadi krusial karena fluktuasi yang terlalu tajam dapat memengaruhi biaya impor bahan baku industri serta beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta.






