Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan habitat serta upaya konservasi gajah Sumatra sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat setempat. Hal ini menjadi fokus utama dalam menjaga kelestarian satwa endemik tersebut, khususnya di kawasan Lanskap Bukit Tigapuluh yang terletak di Provinsi Jambi.
Menurut Raja Juli, kolaborasi antara pemerintah dan warga lokal merupakan kunci utama dalam meminimalisir konflik antara manusia dan gajah. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam pengawasan dan pengelolaan habitat, diharapkan tercipta kesadaran kolektif untuk menjaga ekosistem hutan yang menjadi tempat tinggal alami gajah Sumatra.
Langkah strategis ini diambil guna memastikan bahwa program konservasi tidak hanya berjalan secara administratif dari pemerintah pusat, tetapi juga terimplementasi dengan efektif di lapangan. Pelibatan warga lokal dinilai lebih efisien karena mereka memiliki pemahaman mendalam mengenai kondisi geografis dan perilaku satwa di wilayah tersebut.
Melalui pendekatan berbasis masyarakat, pemerintah berharap dapat menciptakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi warga sekitar dengan upaya perlindungan satwa langka. Dengan demikian, habitat gajah Sumatra di Bukit Tigapuluh dapat tetap terjaga dari ancaman kerusakan hutan maupun perburuan liar, demi keberlangsungan generasi mendatang.
Sebagai informasi, gajah Sumatra merupakan salah satu subspesies gajah Asia yang statusnya kini tergolong terancam punah. Penurunan populasi mereka sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat akibat alih fungsi lahan menjadi perkebunan serta tingginya angka konflik dengan manusia yang seringkali berujung pada kematian satwa tersebut.






