Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan peringatan serius terkait potensi kenaikan harga berbagai komoditas pangan di pasar domestik. Kondisi ini dipicu oleh fenomena alam El Nino yang diprediksi akan terus memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian dan distribusi pangan dalam jangka panjang.
Menurut analisis BPS, fenomena El Nino membawa risiko besar terhadap stabilitas harga pangan karena berpengaruh langsung pada produktivitas hasil tani. Cuaca ekstrem yang menyebabkan kekeringan panjang dapat mengganggu siklus tanam dan panen, sehingga pasokan komoditas pangan di pasar menurun. Ketika stok barang berkurang sementara permintaan tetap tinggi, maka harga di tingkat konsumen cenderung mengalami peningkatan.
BPS menekankan bahwa ancaman dari fenomena El Nino ini tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2027. Hal ini menuntut adanya kewaspadaan tinggi dari pemerintah maupun pelaku pasar dalam mengelola ketahanan pangan nasional agar tidak terjadi lonjakan harga yang drastis dan membebani daya beli masyarakat.
Upaya mitigasi menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan iklim ini. Penyesuaian strategi pertanian, optimalisasi irigasi, serta penguatan stok pangan nasional diharapkan dapat meredam dampak buruk dari anomali cuaca tersebut, sehingga inflasi pangan dapat tetap terkendali hingga beberapa tahun ke depan.
Sebagai informasi, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada perubahan pola cuaca global. Di Indonesia, fenomena ini umumnya menyebabkan penurunan curah hujan yang ekstrem, yang sering kali memicu kekeringan panjang dan kebakaran hutan, sehingga sangat berdampak pada sektor agraris yang mengandalkan air hujan.






