Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini tengah memfokuskan perhatian pada optimalisasi proses pendinginan lahan di wilayah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya pada area gambut. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi munculnya kembali titik api yang sering kali tersembunyi di bawah permukaan tanah.
Dalam pelaksanaannya, BNPB tidak hanya mengandalkan pemadaman api yang terlihat di permukaan. Strategi yang diterapkan mencakup kombinasi antara penyekatan lahan untuk membatasi penyebaran api, pembasahan area yang kering, hingga proses pendinginan intensif. Hal ini krusial karena karakteristik lahan gambut yang memiliki lapisan organik tebal membuat api dapat terus membara di bawah tanah meskipun api di permukaan sudah padam.
Jika proses pendinginan tidak dilakukan secara maksimal, terdapat risiko besar terjadinya 'api tidur' yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali ke permukaan saat cuaca ekstrem atau angin kencang melanda. Oleh karena itu, tim di lapangan terus berupaya memastikan suhu tanah benar-benar turun guna memutus siklus kebakaran yang berulang di lokasi yang sama.
Upaya terpadu ini diharapkan dapat menekan jumlah titik panas (hotspot) secara signifikan dan mencegah dampak buruk asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat serta kesehatan pernapasan. Koordinasi antarinstansi terus ditingkatkan agar penanganan karhutla dapat berjalan lebih efektif dan efisien di titik-titik rawan.






