Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan pembaruan terkini mengenai kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Berdasarkan data terbaru, luas area yang masih terbakar dan belum sepenuhnya padam kini tercatat tersisa seluas 96,07 hektare.
Penurunan luas area yang terbakar ini menunjukkan adanya progres dalam upaya pemadaman yang dilakukan oleh berbagai pihak di lapangan. BNPB terus memantau titik panas (hotspot) guna memastikan sisa area tersebut dapat segera ditangani sepenuhnya agar tidak meluas kembali, terutama saat memasuki periode cuaca kering.
Koordinasi antarlembaga, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga relawan, menjadi kunci utama dalam menekan angka luas lahan yang terbakar. Fokus utama saat ini adalah melakukan pendinginan pada area yang sudah padam untuk mencegah terjadinya kebakaran ulang (re-burning) yang sering terjadi pada lapisan gambut.
Upaya pencegahan dan pengendalian karhutla terus diperkuat melalui patroli terpadu dan manajemen pengairan di lahan gambut. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sengaja, mengingat risiko penyebaran api yang cepat saat kondisi vegetasi kering.
Karhutla merupakan tantangan tahunan yang serius di Indonesia, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Fenomena ini sering kali dipicu oleh kombinasi antara musim kemarau yang panjang, pengaruh El Nino, serta praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem hutan dan mengancam biodiversitas, tetapi juga menimbulkan polusi asap lintas batas yang mengganggu kesehatan masyarakat serta aktivitas ekonomi di kawasan terdampak.






