Kondisi kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga mencapai kategori berbahaya. Hal ini dipicu oleh kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah tersebut akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sekitarnya.
Kondisi lingkungan yang memburuk memaksa masyarakat untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak sehat. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa, terlihat sejumlah warga yang tetap menjalankan aktivitas mereka, termasuk menyusuri Sungai Kahayan dengan menggunakan perahu di tengah kepungan asap yang pekat.
Kualitas udara yang masuk dalam kategori berbahaya ini membawa risiko serius bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan individu dengan riwayat penyakit pernapasan. Paparan asap yang mengandung partikel halus dapat memicu berbagai gangguan kesehatan akut hingga kronis jika tidak segera ditangani dengan langkah mitigasi yang tepat.
Pemerintah daerah dan instansi terkait terus berupaya memantau perkembangan situasi di lapangan serta melakukan langkah-langkah pemadaman titik api guna menekan perluasan area kebakaran. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menggunakan masker pelindung saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi dampak buruk dari polusi asap tersebut.
Kebakaran hutan dan lahan merupakan permasalahan tahunan yang kerap melanda wilayah Kalimantan dan Sumatera, terutama saat memasuki musim kemarau. Fenomena ini umumnya dipicu oleh kombinasi antara cuaca ekstrem, kondisi lahan gambut yang mudah terbakar, serta aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar, yang pada akhirnya berdampak luas pada kerusakan ekosistem dan gangguan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.






