Badan Geologi melaporkan adanya perubahan signifikan pada morfologi Gunung Anak Krakatau setelah mengalami rangkaian erupsi dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data terbaru, tercatat bahwa luas tubuh gunung api tersebut mengalami peningkatan sebesar 32,8 hektare.
Penambahan luas wilayah ini merupakan dampak langsung dari aktivitas vulkanik intens yang terjadi secara berkesinambungan. Erupsi tersebut terpantau berlangsung selama tiga hari, terhitung sejak tanggal 4 hingga 6 September 2026. Material vulkanik yang dikeluarkan selama periode erupsi tersebut kemudian terakumulasi dan membentuk lapisan baru yang memperluas struktur fisik gunung.
Kenaikan luas wilayah sebesar 32,8 hektare ini menunjukkan betapa dinamisnya pertumbuhan Gunung Anak Krakatau sebagai gunung api yang muncul dari dasar laut. Penambahan massa gunung biasanya terjadi melalui pengendapan material piroklastik dan aliran lava yang membeku, yang secara bertahap mengubah bentang alam di sekitar kawah aktif tersebut.
Kondisi ini terus dipantau secara ketat oleh pihak berwenang guna mengantisipasi potensi bahaya yang mungkin timbul akibat perubahan struktur gunung, terutama terkait dengan stabilitas lereng dan potensi terjadinya tsunami jika terjadi longsoran material vulkanik ke dalam laut.






