Pemerintah Republik Indonesia mengambil langkah strategis dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam dengan mengerahkan KRI Sriwijaya-100. Kapal perang ini dipersiapkan khusus untuk memberikan dukungan penuh dalam berbagai operasi penanganan darurat dan kemanusiaan di wilayah perairan Indonesia.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa pemilihan KRI Sriwijaya-100 didasarkan pada kapabilitas teknis kapal tersebut yang sangat mumpuni. Salah satu keunggulan utama dari armada ini adalah kemampuannya dalam mengoperasikan helikopter, yang sangat krusial untuk proses evakuasi cepat maupun distribusi bantuan logistik ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur laut.
Selain dukungan udara melalui helikopter, KRI Sriwijaya-100 juga dilengkapi dengan kemampuan pengoperasian pesawat nirawak atau drone. Pemanfaatan teknologi drone ini diharapkan dapat mengoptimalkan proses pemantauan situasi di lapangan secara real-time, sehingga koordinasi dalam operasi penyelamatan dan pemetaan area terdampak bencana dapat dilakukan dengan lebih akurat dan efisien.
Langkah pengoperasian armada ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam meminimalisir risiko dampak bencana melalui respons cepat. Dengan integrasi antara kekuatan laut dan dukungan udara, diharapkan proses mitigasi serta penanganan pascabencana dapat berjalan lebih sistematis guna menyelamatkan lebih banyak nyawa korban bencana.
Sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), Indonesia memiliki risiko tinggi terhadap berbagai bencana alam, mulai dari gempa bumi, tsunami, hingga banjir bandang. Oleh karena itu, penguatan armada transportasi dan logistik milik TNI Angkatan Laut sering kali menjadi tumpuan utama dalam operasi kemanusiaan berskala besar mengingat luasnya wilayah geografis Indonesia yang hanya bisa dihubungkan melalui jalur laut dan udara.






