Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa sektor rumah tangga memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi pengguna utama Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di Indonesia. Pemanfaatan energi surya di lingkup domestik dinilai sebagai langkah strategis dalam mengoptimalkan sumber daya alam yang melimpah di tanah air.
Menurut Qodari, adopsi PLTS atap oleh masyarakat luas tidak hanya akan membantu mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, tetapi juga memberikan keuntungan ekonomi langsung bagi pengguna melalui efisiensi biaya listrik bulanan. Dengan memasang panel surya di atap rumah, keluarga dapat memproduksi energi bersih secara mandiri yang ramah lingkungan.
Upaya mendorong penggunaan PLTS atap ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi nasional menuju energi terbarukan. Pemerintah terus berupaya mensosialisasikan manfaat jangka panjang dari teknologi ini agar masyarakat semakin tertarik untuk beralih ke energi surya, mengingat potensi sinar matahari di Indonesia yang tersedia sepanjang tahun.
Selain manfaat ekonomi, penggunaan PLTS atap di sektor rumah tangga juga berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi karbon di tingkat lokal. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menghadapi tantangan perubahan iklim global melalui diversifikasi energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Pengembangan energi terbarukan, termasuk PLTS, merupakan bagian dari agenda besar pemerintah Indonesia dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE). Sebagai negara tropis yang terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki keunggulan geografis berupa paparan sinar matahari yang tinggi, sehingga energi surya menjadi salah satu opsi paling rasional untuk mengurangi beban pembangkit listrik berbasis batu bara yang selama ini mendominasi pasokan listrik nasional.






