Nasional

Terancam Punah, Tradisi Gamelan Mulut Nelayan Panarukan Kini Hanya Tersisa 8 Pelaku Seni

Terancam Punah, Tradisi Gamelan Mulut Nelayan Panarukan Kini Hanya Tersisa 8 Pelaku Seni

Warisan budaya takbenda berupa tradisi Gamelan Mulut atau yang dikenal dengan istilah 'Tabbhuwn colo' di kalangan masyarakat nelayan migran Madura, kini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Kesenian khas yang mengandalkan olah vokal dan bunyi mulut ini dilaporkan berada di ambang kepunahan.

Kondisi kritis ini terungkap setelah seorang dosen dari Universitas Jember (UNEJ) melakukan pendokumentasian terhadap tradisi tersebut di wilayah Panarukan. Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, saat ini hanya tersisa delapan orang pemain yang masih menguasai dan melestarikan seni Tabbhuwn colo.

Secara harfiah, istilah Tabbhuwn colo dalam bahasa Madura berarti tabuhan mulut. Berbeda dengan gamelan pada umumnya yang menggunakan instrumen fisik seperti gong atau saron, kesenian ini menciptakan harmoni bunyi melalui teknik vokal khusus yang menyerupai suara instrumen musik tradisional. Tradisi ini menjadi identitas penting bagi komunitas nelayan migran Madura di kawasan tersebut.

Upaya dokumentasi yang dilakukan oleh akademisi UNEJ ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menyelamatkan kekayaan budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Minimnya regenerasi pemain menjadi tantangan utama dalam menjaga keberlangsungan Tabbhuwn colo, mengingat jumlah praktisinya yang kini sangat terbatas.

Kabupaten Situbondo, tempat Panarukan berada, memang dikenal memiliki keragaman budaya yang kuat akibat percampuran etnis, terutama masyarakat Madura dan Jawa. Pelestarian seni tradisional seperti Tabbhuwn colo menjadi krusial karena mencerminkan sejarah migrasi dan adaptasi sosial masyarakat pesisir di Jawa Timur yang kaya akan nilai filosofis dan estetika.

#Budaya Madura#Tabbhuwn colo#Panarukan#Seni Tradisional#Universitas Jember

Rekomendasi Produk

Lihat Semua →