Seorang praktisi medis sekaligus figur publik, Dokter Tompi, menjadi sorotan netizen setelah melontarkan sebuah usulan terkait kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia. Tompi menyarankan agar para orang tua siswa mengambil inisiatif untuk mengumpulkan dana atau patungan guna memberikan tambahan penghasilan bagi para guru.
Komentar tersebut memicu reaksi negatif dari berbagai kalangan pengguna media sosial. Banyak pihak menilai bahwa beban finansial untuk menggaji guru seharusnya menjadi tanggung jawab penuh pemerintah melalui anggaran pendidikan, bukan dibebankan kepada orang tua siswa yang sudah membayar pajak maupun iuran sekolah.
Kritik yang muncul menekankan bahwa usulan tersebut justru berpotensi menciptakan ketimpangan sosial di lingkungan sekolah. Jika sistem patungan diterapkan, dikhawatirkan akan terjadi perbedaan perlakuan antara guru terhadap siswa yang orang tuanya mampu memberikan kontribusi finansial lebih besar dibandingkan dengan siswa dari keluarga kurang mampu.
Selain itu, para pengkritik berpendapat bahwa fokus utama yang seharusnya didorong adalah perbaikan sistem penggajian guru secara struktural oleh negara. Hal ini dianggap lebih efektif dan adil daripada mengandalkan bantuan sukarela yang bersifat temporer dan tidak terjamin keberlanjutannya.
Persoalan mengenai kesejahteraan guru, terutama guru honorer, memang menjadi isu klasik yang terus bergulir di Indonesia. Kesenjangan antara beban kerja yang tinggi dengan penghasilan yang seringkali di bawah standar hidup layak memicu berbagai diskusi publik mengenai urgensi reformasi tunjangan profesi dan standarisasi gaji pendidik di seluruh wilayah Indonesia.






